Mengatasi Kaki Bengkok pada Anak

Kaki bengkok pada anak, seringkali dibiarkan oleh orang tuaDengan terapi yang tepat, kelainan ini dapat diobati. Kuncinya penanganan di sedini mungkin dan kesabaran dalam menjalani terapi

Kelainan ini merupakan kelainan kongenital (diturunkan). Di Amerika, angka kejadian sekitar 1 dari 1000 kelahiran. Sedangkan angka kejadian pada etnis polynesia sekitar 75 dari 1000 kelahiran. Untuk Indonesia belum didapatkan data yang pasti.

Kelainan ini lebih sering terjadi pada pria dengan perbandingan sekitar 2:1. Bisa terjadi pada satu atau pada kedua kaki. Pasangan yang memiliki anak dengan penyakit club foot, maka kemungkinan anak selanjutnya menderita penyakit yang sama sebesar 10%.

Diduga ada banyak hal yang berkaitan dengan masalah ini. Salah satunya, kekurangan cairan (oligohidramnion) dalam kandungan. Akibatnya posisi janin menjadi abnormal sehingga kaki menekuk kedalam. Selain itu ada pendapat yang mengatakan bahwa penyakit ini terjadi akibat adanya kelainan pada pembuluh darah, otot, atau pada tulang yang terdapat pada kaki.

Kelainan yang terjadi pada club foot adalah bagian kaki depan menekuk ke tengah (aduksi), bagian kaki tengah memutar keluar (supinasi). Pergelangan kaki (ankle) menekuk ke bawa (equinus), dan bagian tumit terlihat terangkat. Secara keseluruhan bagian kaki jika dibandingkan dengan lutut tampak memutar ke arah dalam. Jika dibiarkan kelainan ini bisa mengganggu anak saat berjalan. Secara kosmetik bentuk kelainan ini juga terasa cukup mengganggu.

Secara umum, kelainan ini terbagi menjadi dua jenis, tipe fleksibel dan tipe rigid (kaku). Untuk tipe fleksibel, kelainannya lebih mudah diatasi, sedangkan tipa rigid, penanganannya memerlukan waktu untuk bisa mendapatkan hasil yang baik.

Perlu kesabaran

            Pengobatan club foot perlu waktu lama. Tidak dalam hitungan minggu, atau bulan, melainkan tahunan, hingga anak mencapai fase berjalan. Secara umum tindakan untuk mengatasi kelainan ini terbagi menjadi non-operasi dan jika diperlukan akan dilakukan tindakan operasi. Tujuan dari terapi pada akhirnya adalah agar anak dapat berjalan mendekati anak normal dan tidak pincang.

Tindakan non operasi terbagi menjadi beberapa tahap. Pertama adalah dengan melakukan pemasangan gip serial (serial casting). Pemasangan gip dilakukan secara berkala, diganti satu minggu sekali, demikian seterusnya, sampai setidaknya hingga 6 kali. Setelah dilakukan pemasangan gip, dokter melakukan evaluasi, apakah kelainannya sudah terkoreksi atau belum. Jika terdapat kemajuan akan diteruskan dengan pemasangan alat yang disebut dengan Dennis Brown Splint. Dengan alat tersebut, kaki di posisikan mengarah keluar. Alat ini digunakan seterusnya, siang dan malam. Hanya dilepas jika penderita akan ke kamar mandi. Penggunaan alat ini setidaknya 3 bulan, atau jika dokter merasa perlu dapat diperpanjang hingga anak bisa berjalan.

Kondisi ini yang perlu pengertian orang tua. Biasanya anak menjadi rewel dan orang tua tidak tega, sehingga melepas splint tersebut, padahal tindakan tersebut keliru. Pemakaian yang tidak teratur dan sering dibuka mengakibatkan, hasil yang didapat tidak memuaskan. Selain menggunakan Dennis Brown Splint, bisa juga digunakan alat yang disebut Ankle-Foot Orthosis (AFO).

 Selanjutnya digunakan sepatu yang dengan bentuk ke arah luar. Sepatu ini terlihat terbalik. Sepatu kanan untuk kaki kiri, sedangkan sepatu kiri untuk kaki kanan. Sepatu ini digunakan paling tidak hingga usia 3 tahun. Tujuannya untuk mempertahankan mencegah kembalinya posisi kaki ke arah abnormal

Kapan perlu operasi?

            Menurut dokter Siki, ada beberapa kriteria sebelum dokter memutuskan tindakan operasi. Diantaranya karena kelainannya terlalu parah sehingga penanganan non operasi gagal, atau karena terlambat mendapat penanganan sehingga kondisinya sudah parah. Patut dicatat bahwa tindakan operasi ini hanya terapi awal. Selanjutnya terapi yang diberikan relatif sama dengan tindakan pemasangan gip. Menggunakan splint, sepatu yang mengarah keluar, dan seterusya. Bedanya pada tindakan operasi biasanya tidak digunakan gip yang di ganti setiap minggu.

            Pada tindakan operasi biasanya dilakukan pembebasan jaringan yang mengakibatkan posisi kaki abnormal. Atau jika perlu dilakukan pemotongan tulang, jika kondisinya sudah sulit diperbaiki. Pada kondisi tertentu, misalnya akibat kesulitan dalam mempertahankan posisi kaki, maka dokter akan membuat sendi pergelangan kaki (ankle) menjadi kaku

Komplikasi

            Akibat kelainan ini, biasanya kaki penderita (daerah betis) akan mengecil. Hal ini bisa terjadi karena pada daerah tersebut memang mengalami gangguan. Namun hal itu tidak perlu dikhawatirkan, karena fungsi kaki masih bisa dipertahankan. komplikasi lain bisa muncul akibat tindakan terapi yang dilakukan. Misalnya saja akibat pemasangan gip, terjadi gangguan pada pembuluh darah dan saraf. Gejala  yang terjadi penderita terus menerus merasa nyeri, kaki dingin, kebiruan, terkadang menjadi tegang dan bengkak. Jika hal itu terjadi maka harus dilakuan pelepasan gip segera agar tidak terjadi kematian pada otot atau jaringan lainnya.Pemasangan gip yang salah juga bisa mengakibatkan posisi kaki menyerupai terumpah (dikenal dengan rockerbottom foot)

Tindakan operasi juga bisa mengakibatkan komplikasi. Diantaranya ; infeksi, atau terjadi kerusakan jaringan berlebihan. Komplikasi lain adalah kekakuan sendi pergelangan kaki (ankle), atau mungkin juga terjadi kerusakan pada tulang talus yang merupakan komponen penting di kaki. Beragam komplikasi tersebut masih bisa diatasi asalkan penderita tetap melakukan komunikasi dengan dokter. Dengan demikian dokter bisa mengetahui lebih awal, dan terhindar dari masalah yang lebih serius.

Incoming search terms:

  • apakah lutut bayi menekuk kedepan
  • hasil gip pada kaki bayi
  • kaki bayi di gip karena bengkok